Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

HADITS DOA "ROBBIGHFIRLII AAMIIN" SETELAH BACA AL-FATIHAH DALAM SHOLAT

HADITS DOA "ROBBIGHFIRLII AAMIIN" SETELAH BACA AL-FATIHAH DALAM SHOLAT

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ آمِيْن

----

Di susun oleh Abu Haitsam fakhri

KAJIAN NIDA AL-ISLAM

 ----

 =====

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

===***===

DOA “ROBBIGHFIRLI” SECARA UMUM

DOA (رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ) adalah :

Doa NABI NUH dan NABI IBRAHIM ‘alaihis salam. Namun doa tsb umum tidak di tentukan ketika selesai baca (وَلَا الضَّالِّينَ) dan sebelum aamiin dalam shalat.

====

Pertama: DOA NABI NUH ’alaihis salam

Dalam al-Qur'an di sebutkan:

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَّلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۗ وَلَا تَزِدِ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا تَبَارًا ࣖ

Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran.” [QS. Nuh: 28 ].

===

Kedua: DOA NABI IBRAHIM ’alaihis salam

Dalam al-Qur'an di sebutkan:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ ࣖ

Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).” [QS. Ibrahim: 41 ].

===****===

HADITS DOA "ROBBIGHFIRLI" SETELAH (وَلَا الضَّالِّينَ) KETIKA SHOLAT

Adapun yang berkenaan dengan bacaan (رَبِّ اغْفِرْ لِي آمِينَ) setelah (وَلَا الضَّالِّينَ), maka berikut ini pembahasannya:

Yaitu dalam Hadits Wa`il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu:

أنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ حِينَ قَالَ: ” {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: «رَبِّ اغْفِرْ لِي آمِينَ»".

Artinya: Bahwasanya dia mendengar Rasulullah ketika membaca:

{ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }

Beliau membaca

«رَبِّ اغْفِرْ لِي آمِينَ»

HR. Ath-Thabarani dalam Mu’jam Kabir 22/ 42, no. 17958, Al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro 2/58 no. 2281 dan Ibnu Al-Bakhtari [موسوعة الحديث  (no.135) ]

****

DIROSAH SANAD DAN MATAN HADITS

Semua perawi di dalam sanadnya tsiqoot / dipercaya, kecuali dua perawi yaitu: Ahmad bin Abdil Jabbar Al-‘Uthaaridi dan Ayahnya [Abdul Jabbar bin Muhammad bin Umair Al-‘Uthaaridi, masyhur dengan nama Abdul Jabbar bin Umar Al-‘Uthaaridi].

Dan dari susunan sanad, hadits ini tunggal bersumber dari Ahmad bin Abdil Jabbar Al-‘Uthaaridi yang menerima dari Ayahnya.

Berikut ini tentang dua perawi tsb:

Pertama: Abdul Jabbar bin Umar Al-‘Uthaaridi Ia majhul haal, thabaqah ke-9 Kuufi.

Imam Musalamah bin Al-Qasim berkata: “Ia rawi dhaif.”

Imam Ibnu Hibban memasukannya dalam Ats-Tsiqat. (Lisan al-Mizan, 5/58)

Kedua: Ahmad bin Abdil Jabbar Al-‘Uthaaridi, Thabaqah ke-11 Kuufi.

Ibnu Hajar al-Haitsami (w. 807) menjelaskan:

وَفِيهِ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ الْعُطَارِدِيُّ، وَثَّقَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُ، وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ: رَأَيْتُ أَهْلَ الْعِرَاقِ مُجْمِعِينَ عَلَى ضَعْفِهِ

“Di dalam perawi hadits terdapat Ahmad bin ‘Abdul Jabbar al-‘Utharidi, Imam ad-Daruquthni dan Imam lainnya menganggap perawi tersebut tsiqqah (Dapat dipercaya). Imam Ibnu ‘Adhi berkata: “Aku melihat para ulama iraq bersepakat mendlaifkannya”

[Baca Majma‘ al-Zawa’id 2/293]

Imam Al-‘Uqaili berkata: “Pada haditsnya terdapat kesalahan yang amat sangat banyak.” (ad-Du‘afā al-Kabīr, 3/90 no. 10260)

Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Ia rawi yang tidak kuat haditsnya.”

Muthin Al-Hadhrami berkata: “Ia pendusta.”

Abul Abbaas bin ‘Aqdah (ia ulama dari kuffah yang setempat dengan Ibnu Abdil Jabbar):
“Ia tidak meriwayatkan hadits darinya karena kedhaifannya.”

Al-Haafizh Ibnu hajar al-Asqalaani menyimpulkan: bahwa Ahmad bin Abdil Jabbar adalah rawi yang dhaif, dan terhadap sama’I nya terkait hadits-hadits shirah maka dipandang shahih.

(Lihat Tahdhib al-Kamal, Bab Ahmad bin ‘Abd al-Jabbar al-‘Aththoridi)

====

KESIMPULAN DERAJAT HADITS

Al-Hafidz Syihabuddin al-Qostholani (w. 923) dalam Irsyad as-Sari 2/100 menyatakan bahwa sanadnya tidak shahih. Dan dia berkata:

فِي إِسْنَادِهِ أَبُو بَكْرٍ النَّهْشَلِيُّ وَهُوَ ضَعِيفٌ

Di dalam sanadnya adalah Abu Bakar al-Nahsyali, dan dia itu dha'if.

Begitu juga yang dikatakan oleh Abdurrohiim Zein al-Iraqi dalam Tarh at-Tathrib 2/264 dengan ungkapan yang sama.

Dan di-dha'if-kan pula sanadnya oleh Syu’aib al-Arna’uth dalam Takhrij al-Musnad 31/137.

Hadits ini Mu’dhal Tafarrud Munkar. Tidak ada satupun ulama ahli nuqad yang menjadikan hadits ini sebagai hujjah.

Al-Hafizh Syamsuddin Adz-Dzahabi (w. 748 H) rahimahullah menyatakan:

هَذَا حَدِيثٌ مُنْكَرٌ، وَالْعَطَّارِدِيُّ وَأَبُوهُ تُكَلِّمُ فِيهِمَا، وَالْيَحْصَبِيُّ فِيهِ جَهَالَةٌ.

“Hadits ini termasuk hadits munkar. Al-‘Utharidi dan bapaknya tak lepas dari pembicaraan, sedangkan Al-Yahshubi terdapat ketidakjelasan.” (Al-Muhadzdzab, 1/508)

YANG MENGHASANKAN HADITS

Ibnu Hajar AL-HAITAMI w. 974 H [bukan Ibnu Hajar al-Haitsami w. 807] dia meng HASAN kannya:

 (تَنْبِيهٌ) أَفْهَمَ قَوْلُهُ عَقِبَ فَوْتَ التَّأْمِينِ بِالتَّلَفُّظِ بِغَيْرِهِ وَلَوْ سَهْوًا كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ عَنْ الْأَصْحَابِ وَإِنْ قَلَّ، نَعَمْ يَنْبَغِي اسْتِثْنَاءُ نَحْوِ رَبِّ اغْفِرْ لِي لِلْخَبَرِ الْحَسَنِ : " أَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ عَقِبَ الضَّالِّينَ رَبِّ اغْفِرْ لِي آمِينَ".

PERHATIAN!!!: Fahamilah perkataannya :

“Hilangnya kesunnahan membaca âmîn yang disebabkan karena mengucapkan kalimat yang lain, walaupun dalam keadaan lupa, seperti dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ dari para pengikut Imam as-Syafi’I, meskipun hanya dengan kalimat yang sedikit”:

Itu benar, namun hendaknya dikecualikan penambahan kalimat " rabbighfir lî" berdasarkan HADITS HASAN bahwa “Rasulullah bersabda setelah melafalkan adh-dhoollîn adalah doa “rabbighfir lî âmîn” .

(Baca: Tuhfatul Muhtaj karya Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, 2/49)

===****===

RIWAYAT YANG SHAHIH 
TIDAK ADA TAMBAHAN " ROBBIGHFIR LII"

Ada riwayat hadits yang shahih tanpa ada kata "Robbighfirli":

===

PERTAMA: DARI SAHABAT YANG SAMA, WAA'IL BIN HUJUR radhiyallaahu 'anhu

KE 1: Imam ad-Daaruquthny meriwayatkan dengan sandanya melalui jalur Hajar Abi Al-'Anbas, yaitu Ibnu 'Anbas, dari Waa'il bin Hujur radhiyaalhu 'anhu, dia berkata:

 سمِعتُ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ قرَأ: {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7]، فقال: آمينَ. مدَّ بها صَوتَه.

Aku mendengar Rosulullah membaca:

{ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }

Lalu Beliau mengucapkan: " Aamiiin ", dengan memanjangkan suaranya.

[Di shahihkan oleh ad-Daaruquthni dlm Sunannya 1/328 no. 1253. Dengan mengatakan:

قَالَ أَبُو بَكْرٍ: "هَذِهِ سُنَّةٌ تَفَرَّدَ بِهَا أَهْلُ الْكُوفَةِ"، هَذَا صَحِيحٌ وَالَّذِي بَعْدَهُ.

Abu Bakar berkata: “Ini adalah Sunnah yang hanya diamalkan oleh orang-orang Kufah.” Ini adalah Shahih dan yang sesudahnya ".

KE 2: Lewat jalur lain Imam Ahmad no. 18854 dan ad-Daruquthni 1/328 no. 1256. Yaitu dari Hajar Abi Al-Anbas, dari 'Alqamah, telah bercerita kepada kami Waa'il atau dari Waa'il bin Hujur:

صلَّى بنا رَسولُ اللهِ ﷺ، فلمَّا قرَأَ: {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7]، قال: آمينَ، وَأَخْفَى بِهَا صَوتَهُ، ووضَعَ يَدَهُ اليُمنى على يَدِهِ اليُسرى، وسلَّمَ عن يَمينِهِ، وعن يَسارِهِ.

Rasulullah Sholat bersama kami, dan ketika dia membaca:

{ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }

Lalu Beliau mengucapkan: " Aamiiin ".

Dan dia melirihkan suaranya dalam mengucapkannya, dan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, dan mengucapkan salam ke kanan dan ke kirinya.

Riwayat ini di shahihkan oleh Syu'aib al-Arna'uth tanpa lafadz (وَأَخْفَى بِهَا صَوتَهُ  = artinya: " dan melirihkan suaranya) dalam mengucapkannya "[Baca: Takhriij al-Musnad no. 188854 ].

Oleh sebab itu Syekh Abdullah bin Muhammad al-Ghumari dalam himpunan fatwanya mengatakan:

وَالْحَاصِلُ: أَنَّ الْحَدِيثَ بِدُونِ زِيَادَةٍ: «رَبِّ اغْفِرْ لِي» حَسَنٌ صَحِيحٌ كَمَا قَالَ ابْنُ حَجَرٍ وَغَيْرُهُ، وَهُوَ بِهَا ضَعِيفٌ كَمَا قَالَ الْحَافِظُ الْعِرَاقِيُّ، فَظَهَرَ أَنَّ لا تُنَاقِضَ بَيْنَ الْقَوْلَيْنِ لِاخْتِلَافِ مُورِدِهِمَا وَإِنْ كَانَ أَصْلُ الْحَدِيثِ وَاحِدًا، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ.

“Kesimpulannya bahwa hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah tidak menambahkan kata rabbighfir lî dianggap hasan dan shahih, seperti yang dijelaskan Imam Ibnu Hajar al-‘Asyqalani dan Imam lainnya, sedangkan dengan menambahkan kata tersebut dihukumi dhaif, seperti yang diungkapkan al-Hafidz al-‘Iraqi.

Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada pertentangan diantara dua pendapat karena berbeda-bedanya dasar (hadits) dari keduanya, meskipun asal dari (dua) hadits tersebut tetaplah satu”

(Baca: Mawsu'ah 'Abdullah al-Ghumari Fatawa wa Ajwibah 16/181, Karya Abdullah bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari)

===

KEDUA: DARI SAHABAT YANG LAIN, YAITU RIWAYAT ABU HURAIRAH radhiyallahu ‘anhu:

Riwayat yang shahih dari sahabat selain Waa'il bin Hujur tanpa ada kata "Robbighfirli":

KE 1: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِذَا قَالَ الإِمَامُ: {غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] فَقُولُوا: آمِينَ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ المَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “

" Bahwa Rasulullah bersabda, “Apabila imam membaca ghairil-maghdubi ‘alaihim wa lad-dhalin, maka katakanlah “amin”. Barangsiapa bacaan aminnya itu bersamaan dengan bacaan para malaikat, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang lalu. (HR. al-Bukhari no. 782)

KE 2: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا يَقُولُ: ” لَا تُبَادِرُوا الْإِمَامَ إِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا قَالَ: وَلَا الضَّالِّينَ فَقُولُوا: آمِينَ، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقُولُوا: اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ “

“Adalah Rasulullah mengajarkan kepada kami.” Nabi bersabda, “Janganlah kalian mendahului imam. Apabila imam takbir, maka bertakbirlah kalian. Apabila imam membaca “wa ladh-dhalin”, maka katakana “amin”. Apabila imam rukuk, maka rukuklah kalian. Apabila imam berkata “sami’a-Llahu liman hamidah”, maka katakanlah “allahumma rabbana lakal-hamdu”. (HR. Musilim no. 959)

KE 3: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا، وَإِذَا قَالَ: {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] فَقُولُوا: آمِينَ، وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقُولُوا: اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا، وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا

Rasulullah bersabda: "Dijadikannya imam adalah agar diikuti, jika ia takbir maka bertakbirlah, jika ia membaca maka dengarkanlah, jika ia membaca: وَلَا الضَّالِّينَ maka ucapkanlah AMIIN.

Jika ia rukuk maka rukuklah!

Jika ia mengucapkan: (سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ) maka ucapkanlah (اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ)!

Jika ia sujud maka sujudlah, dan jika ia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian semua dengan duduk!. "

[HR. Bukhori no. 734, Muslim no. 414, Abu Daud no. 511, Nasaai no. 921 dan Ibnu Majah no. 837 ]

===***===

FIQIH HADITS

===

SYEIKH BIN BAAZ :

Syeikh bin Baaz pernah di tanya tentang bacaan Robbighfirlii setelah waladhoolliin dan sebelum Aamiin. Lalu Beliau Rahmahullah menjawab:

هَذَا غَيْرُ مَشْرُوعٍ، المَشْرُوعُ بَعْدَ ﴿وَلَا الضَّالِّينَ﴾ [الفاتحة: 7] أَنْ يَقُولَ: آمِينَ. أَمَّا قَوْلُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ، فَلَيْسَ بِمَشْرُوعٍ، هَذَا هُوَ المَشْرُوعُ لِلْمَأْمُومِ.

Ini tidak di syariatkan. Adapun yang di syariatkan setelah “وَلَا الضَّالِّينَ” adalah mengatakan: "Aamiin".

Adapun ucapan: (
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ = artinya: Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku) maka ini tidak di syariatkan. Bacaan Aamiin Inilah yang disyariatkan untuk makmum.

Sumber: Syekh Bin Baz dari Fatwa Noor 'ala al-Darb (11/333-334)

Dalam Fatwa lain Syeikh Bin Baaz berkata:

لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ، لا يَنْبَغِي تَرْكُهُ، لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ، فَإِذَا قَالَ: ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾ [الفاتحة:5]، يَسْتَمِرُّ فِي قِرَاءَتِهِ وَلَا يَقُولُ: اسْتَعِنَا بِاللَّهِ، مَا لَهُ أَصْلٌ، لَا يُبْطِلُ الصَّلَاةَ، الصَّلَاةُ لَا تُبْطَلُ بِذَلِكَ، لَكِنْ غَيْرُ مَشْرُوعٍ هَذَا، كَذَلِكَ عِنْدَ قَوْلِهِ: وَلا الضَّالِّينَ، لَا يَقُلُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ، هَذَا مَا وَرَدَ... يَقُولُ: آمِينَ....... وَلا الضَّالِّينَ [الفاتحة:7] يَقُولُ بَعْدَهَا: آمِينَ. هَذَا الَّذِي شَرَعَهُ اللَّهُ.

" [Robbighfirli waliwaalidayya] Tidak ada asalnya. Tidak, sebaiknya itu ditinggalkan. Itu tidak ada asalnya.

Kemudian ketika dia membaca:

" إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ".

Maka dia teruskan bacaannya. Dan tidak usah mengucapkan: "ista'annaa billah / اسْتَعَنَّا بِاللَّه" karena tidak ada asalnya, NAMUN TIDAK MEMBATALKAN SHALAT.

Itu tidak membatalkan sholat, akan tetapi ini tidak di syariatkan.

Demikian juga ketika dia berkata: (وَلا الضَّالِّينَ), maka dia jangan mengatakan:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ

Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku.

Karena ini tidak ada keterangan dalil...

Yang benar Dia ucapakan: Amin....

Yakni " waladhdhoolliin " Kemudian dia ucapkan: Aamiin. Inilah yang Allah Syariatkan".

Sumber: Nur ‘ala ad-Darb / Alfadz Ghair Masyrūah Tuqāl ‘Inda Qirāah al-Imām al-Fātiah / 07 Jumadil Ula 1443 H.

===

IMAM SYAFI'I :

Namun Al-Imam Al-Syafi'i berkata dalam al-Umm 2/250 No. Bab 53 [Tahqiq DR. Rif'at Fauzi]:

وَلَوْ قَالَ مَعَ: آمِينَ رَبَّ الْعَالَمِينَ وَغَيْرَ ذَلِكَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ كَانَ حَسَنًا لَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ شَيْءٌ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

Dan jika dia mengucapkan bersama: "Amiin", ditambah kalimat "Robbal 'aalamiin " dan lainnya dari kalimat dzikir untuk mengingat Allah, maka itu baik, karena lafadz dzikir apa saja tidak ada yang membatalkan sholat ".

****

PERNYATAAN PARA ULAMA 
YANG MEMBOLEHKAN BACAAN "ROBBIGHFIRLII"

Dalam kitab Busyrol Karim dijelaskan:

نَعَمْ؛ يُسَنُّ بَعْدَ (وَلَا الضَّالِّينَ)، وَقَبْلَ "آمِين" كَمَا فِي الْخَبَرِ: "رَبِّ اغْفِرْ لِي". قَالَ السَّيِّدُ عُمَرُ الْبَصْرِيُّ: (فَإِن زَادَ: وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ.. لَمْ يَضُرْ) اهـ. وَهُوَ مُسَاوٍ لِقَوْلِ غَيْرِهِ: لَا بَأْسَ بِذَلِكَ، أَي أَنَّهُ لَا مَسْنُونٌ وَلَا مَكْرُوهٌ.

" Benar, disunahkan membaca " robbighfirli " setelah (wa laa Adl-Dloollin) dan sebelum "amiin" sebagaimana keterangan yang terdapat dalam hadis.

Sayyid Umar Al-Bashri mengatakan: "jika seseorang menambah:

وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلمِيْن

“waliwalidayya walijamii'il muslimin”

Maka itu tidak membahayakan (tidak mengapa) ".

Hal ini ada kesamaan dengan perkataan Ulama lain yaitu (لاَ بَأْسَ  = tidak mengapa), maksudnya: tidak disunahkan dan tidak dimakruhkan ".

Dan juga ada yang lain yang sependapat dengan Sayyid Al-Bashri, yaitu Syekh Ali As-Syibromilisi yang dijelaskan dalam Ianatut Tholibin: " Telah berkata Syaikh Ali As-Syibromilisi:

وَيَنْبَغِي أَنَّهُ لَوْ زَادَ عَلَى ذَلِكَ: وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ لَمْ يَضُرْ أَيْضًا اهـ

"Selayaknya jika seseorang menambahi lafadz (waliwalidayya walijamii'il muslimin) maka hal itu tidaklah membahayakan".

****

SIAPAKAH YANG DIANJURKAN BACA ROBBIGHFIRLI ?

Bacaan robbighfirli itu hanya dianjurkan bagi membaca al-Fatihah saja (imam dan munfarid) ataukah juga berlaku bagi makmum?.

JAWABANNYA:

Pertama:

Dalam kitab (بغية المسترشدين ) hal. 59 [cet Daarul Kutubul Ilmiyyah]Sayyid Ba 'alawi Al-Hadlromi menuqil perkataan Asy-Syaikh Al-Allaamah Tohir bin Husein:

قَالَ الشَّرِيفُ الْعَلَّامَةُ طَاهِرُ بْنُ حُسَيْنٍ: لَا يُطْلَبُ مِنَ الْمَأْمُومِ عِنْدَ فَرَاغِ إِمَامِهِ مِنَ الْفَاتِحَةِ قَوْلُ رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَإِنَّمَا يُطْلَبُ مِنْهُ التَّأْمِينُ فَقَطْ، وَقَوْلُ رَبِّي اغْفِرْ لِي مَطْلُوبٌ مِنَ الْقَارِئِ فَقَطْ فِي السَّكْتَةِ بَيْنَ آخِرِ الْفَاتِحَةِ وَآمِينَ اهـ

Makna Tuban: Berkata Asy-Syarif Al-Allaamah Tohir bin Husein: "Ucapan Robbighfirli tidak dianjurkan bagi makmum ketika imam selesai membaca Al-Fatihah, yang dianjurkan bagi makmum adalah ucapan Amin saja. Adapun ucapan Robbighfirli itu dianjurkan bagi yang membaca (Al-Fatihah) saja saat diam antara akhir Al-Fatihah dan Amin".

Kedua:

Dalam kitab I‘ānat ath-Ṭhālibīn 1/173, Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syāthū Ad-Dimyātī Asy-Syāfi‘i (1310 H) berkomentar:

وَانْظُرْ هَلِ الَّذِي يَقُولُ مَا ذُكِرَ الْقَارِئُ فَقَطْ؟ أَمْ كُلُّ مَنْ الْقَارِئُ وَالسَّامِعُ؟ وَالَّذِي يَظْهَرُ لِي الْأَوَّلُ

Dan perhatikanlah!, apakah orang yang (dianjurkan) membaca bacaan (robbighfirli) tersebut itu hanya yang baca fatihah saja? Ataukah masing-masing dari yang membaca dan yang mendengar ? Yang dzohir menurutku adalah yang pertama (yakni hanya yang membaca) ".

Ketiga:

Dalam Kitab Fathul Wahhab al-Malik Syarh 'Umdat as-Salik karya Toha bin Abdul Hamid yang memberi kesimpulan jawaban.

قَوْلُهُ: (مَطْلُوبٌ...) إِلخ: قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بَاسُودَانَ فِي فَتَاوَاهُ بَعْدَ أَنْ نَقَلَ مَا قَالَهُ الحَبِيبُ طَاهِرٌ: (فَعَلَيْهِ إِذَا قَالَ المَأْمُومُ رَبِّ اغْفِرْ لِي حَالَةَ قِرَاءَةِ الفَاتِحَةِ انْقَطَعَتْ، لَكِنْ فِي الدَّرِّ المَنْثُورِ) أَنْ قَوْلَ (رَبِّ اغْفِرْ لِي) مَطْلُوبٌ مِنَ القَارِئِ وَغَيْرِهِ) انْتَهَى.

" Perkataan mushonif (dianjurkan... dst): Telah berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah Baasudan dalam fatawi beliau setelah menuqil apa yang dikatakan oleh Al-Habib Tohir diatas". maka dari perkataan ini, ketika makmum mengucapkan Robbighfirli saat membaca Al-Fatihah maka bacaan Al-Fatihah nya menjadi terputus.

Akan tetapi didalam kitab Ad-Durrul Mantsur [karya Imam as-Sayuuthi]dikatakan bahwa ucapan Robbighfirli itu dianjurkan bagi pembaca Al-Fatihah dan selainnya (termasuk pendengar)".

Penulis katakan: Berarti menurut Imam Suyuti dalam Ad-Durrul Mantsur bahwa bacaan "Robbighfirli" berlaku bagi imam dan makmum.

===

KESIMPULAN

Kesimpulan dari kelompok yang membolehkan baca "Robbighfirli" sebelum Aamin adalah sbb:

Pertama: Setelah Amin boleh ditambah Rabbal Alamin atau Walhamdu Lillahirobbil Alamiin.

Kedua: Sebelum Amin tidak disunahkan mengucapkan sesuatu apapun kecuali Robbighfirli dan setelahnya tidak mengapa ditambah Waliwalidayya walijamii'il muslimin.

Ketiga: Yang dianjurkan membaca Robbighfirli hanya yang membaca Fatihah saja (didalam shalat berarti hanya imam dan munfarid). Namun menurut Imam Suyuti dalam Ad-Durrul Mantsur juga berlaku bagi makmum.

  

 

 

Posting Komentar

0 Komentar