HADITS DOA "ROBBIGHFIRLII AAMIIN"
SETELAH BACA AL-FATIHAH DALAM SHOLAT
«رَبِّ اغْفِرْ لِيْ آمِيْن»
=======
Di susun oleh Abu Haitsam fakhri
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
===
=====
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
===***===
BACA DOA “ROBBIGHFIRLI” SECARA UMUM
DOA (رَبِّ
اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ) adalah :
Doa NABI NUH dan NABI IBRAHIM ‘alaihis salam.
Namun doa tsb umum tidak di tentukan ketika selesai baca (وَلَا الضَّالِّينَ) dan sebelum aamiin dalam shalat.
Pertama: DOA NABI NUH ’alaihis salam
Dalam al-Qur'an di sebutkan:
﴿رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ
دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَّلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۗ وَلَا تَزِدِ
الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا تَبَارًا﴾
Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa
pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki
dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu
selain kehancuran.” [QS. Nuh: 28 ].
Kedua: DOA NABI IBRAHIM ’alaihis salam
Dalam al-Qur'an di sebutkan:
﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ
وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ﴾
Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku
dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).”
[QS. Ibrahim: 41 ].
======
HADITS DOA "ROBBIGHFIRLI" SETELAH (وَلَا الضَّالِّينَ) KETIKA SHOLAT
Adapun yang berkenaan dengan bacaan (رَبِّ اغْفِرْ لِي آمِينَ) setelah (وَلَا الضَّالِّينَ), maka berikut ini pembahasannya:
Dalam hadits Wa`il bin Hujr radhiyallahu
‘anhu disebutkan:
أنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ حِينَ
قَالَ: ” ﴿غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ﴾ قَالَ: «رَبِّ
اغْفِرْ لِي آمِينَ»".
Artinya: Bahwasanya dia mendengar Rasulullah ﷺ ketika membaca:
﴿غَيْرِ الْمَغْضُوبِ
عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ﴾
Beliau ﷺ membaca
«رَبِّ اغْفِرْ لِي آمِينَ»
HR. Ath-Thabarani dalam Mu’jam Kabir 22/ 42, no.
17958, Al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro 2/58 no. 2281 dan Ibnu Al-Bakhtari [موسوعة الحديث (no.135) ]
===
DIROSAH SANAD DAN MATAN HADITS
Semua perawi di dalam sanadnya tsiqoot / dipercaya,
kecuali dua perawi yaitu: Ahmad bin Abdil Jabbar Al-‘Uthaaridi dan Ayahnya
[Abdul Jabbar bin Muhammad bin Umair Al-‘Uthaaridi, masyhur dengan nama Abdul
Jabbar bin Umar Al-‘Uthaaridi].
Dan dari susunan sanad, hadits ini tunggal
bersumber dari Ahmad bin Abdil Jabbar Al-‘Uthaaridi yang menerima dari Ayahnya.
Berikut ini tentang dua perawi tsb:
Pertama: Abdul Jabbar bin Umar Al-‘Uthaaridi Ia
majhul haal, thabaqah ke-9 Kuufi (dari Kufah).
Imam Musalamah bin Al-Qasim berkata: “Ia rawi
dhaif.”
Akan tetapi Imam Ibnu Hibban memasukannya dalam
Ats-Tsiqat (kitab kumpulan para perawi terpercaya). (Lisan al-Mizan, 5/58)
Kedua: Ahmad bin Abdil Jabbar Al-‘Uthaaridi,
Thabaqah ke-11 Kuufi (dari Kufah).
Ibnu Hajar al-Haitsami (w. 807) menjelaskan:
"رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ وَفِيهِ أَحْمَدُ
بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ الْعُطَارِدِيُّ وَثَّقَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَأَثْنَى
عَلَيْهِ أَبُو كُرَيْبٍ وَضَعَّفَهُ جَمَاعَةٌ وَقَالَ ابْنِ عَدِيٍّ: لَمْ أَرَ
لَهُ حَدِيثًا مُنْكَرًا".
Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani. Di dalam
sanadnya terdapat Ahmad bin Abdul Jabbar Al-'Utharidi. Ad-Daraquthni menilainya
sebagai perawi yang tsiqah (terpercaya), dan Abu Kuraib memberikan
pujian kepadanya. Namun, sejumlah ulama melemahkannya.
Ibnu 'Adi berkata: "Aku tidak melihat satu
pun hadits darinya yang mungkar."”
[Baca Majma‘ al-Zawa’id 2/113 no. 2668]
----
KESIMPULAN DERAJAT HADITS
Ada dua pendapat:
(1) ada yang menghasankan sanadnya.
(2) dan
ada pula yang mendho’ifkan.
Pendapat pertama : yang menghasankan sanadnya:
Ibnu Hajar AL-HAITAMI w. 974 H [bukan Ibnu Hajar
al-Haitsami w. 807] dia meng HASAN kannya. Dia berkata:
(تَنْبِيهٌ) أَفْهَمَ قَوْلُهُ عَقِبَ
فَوْتَ التَّأْمِينِ بِالتَّلَفُّظِ بِغَيْرِهِ وَلَوْ سَهْوًا كَمَا فِي
الْمَجْمُوعِ عَنْ الْأَصْحَابِ وَإِنْ قَلَّ، نَعَمْ يَنْبَغِي اسْتِثْنَاءُ
نَحْوِ رَبِّ اغْفِرْ لِي لِلْخَبَرِ الْحَسَنِ : " أَنَّهُ ﷺ قَالَ عَقِبَ
الضَّالِّينَ: «رَبِّ
اغْفِرْ لِي آمِينَ»".
PERHATIAN!!!: Fahamilah perkataannya (an-Nawawi):
“Hilangnya kesunnahan membaca âmîn yang
disebabkan karena mengucapkan kalimat yang lain, walaupun dalam keadaan lupa,
seperti dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ dari para pengikut Imam as-Syafi’I,
meskipun hanya dengan kalimat yang sedikit”:
Itu benar, namun hendaknya dikecualikan penambahan
kalimat " rabbighfir lî" berdasarkan HADITS HASAN:
Bahwa Rasulullah ﷺ setelah melafalkan adh-dhoollîn, membaca
doa “rabbighfir lî âmîn” . (Baca: Tuhfatul Muhtaj karya Syeikh Ibnu
Hajar al-Haitami, 2/49)
Pendapat al-Haitami ini diikuti pula oleh al-Bujayrimi
asy-Syafi’i dalam Hasyiyah al-Bujairimi 1/199. Al-Bujayrimi berkata :
(قَوْلُهُ: وَسُنَّ عَقِبَ الْفَاتِحَةِ آمِينَ)
نَعَمْ يَنْبَغِي اسْتِثْنَاءُ نَحْوِ رَبِّ اغْفِرْ لِي لِلْخَبَرِ الْحَسَنِ «أَنَّهُ
ﷺ قَالَ عَقِبَ وَلَا الضَّالِّينَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي آمِينَ» حَجّ وَيَنْبَغِي
أَنَّهُ لَوْ زَادَ عَلَى ذَلِكَ وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ لَمْ يَضُرَّ
Perkataan an-Nawawi : "Disunnahkan setelah
selesai membaca Al-Fatihah mengucapkan 'Amin'."
Ya, namun sepatutnya dikecualikan bacaan seperti
"Rabbi ighfir li", berdasarkan hadits hasan bahwa Rasulullah ﷺ setelah membaca "Waladh-dhallin" mengucapkan
"Rabbi ighfir li. Amin."
Demikian disebutkan oleh Ibnu Hajar.
Tampaknya, apabila ditambahkan setelah itu doa:
وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ
"Wa liwalidayya wa lijami'il muslimin
(dan ampunilah kedua orang tuaku serta seluruh kaum
muslimin),"
maka hal itu tidak mengapa dan tidak membatalkan
atau mengurangi kesunnahan tersebut”. [Selesai]
Syeikh Kholil as-Saharanfuri dalam Badzlul Majhud
4/440 berkata:
قُلْتُ: فِيهِ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ
الْجَبَّارِ، قَالَ الْهَيْثَمِيُّ فِي «مَجْمَعِ الزَّوَائِدِ»: وَثَّقَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ،
وَأَثْنَى عَلَيْهِ أَبُو كُرَيْبٍ، وَضَعَّفَهُ جَمَاعَةٌ، وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ:
لَمْ أَرَ لَهُ حَدِيثًا مُنْكَرًا. انْتَهَى.
وَقَالَ عَلِيٌّ الْقَارِي فِي
«الْمِرْقَاةِ» (2/287): وَرَوَى الطَّبَرَانِيُّ بِسَنَدٍ لَا بَأْسَ بِهِ، ثُمَّ
سَاقَ الْحَدِيثَ.
Saya berkata: Di dalam sanadnya terdapat Ahmad bin
Abdul Jabbar.
Al-Haitsami berkata dalam Majma' Az-Zawa'id 2/113:
"Ad-Daraquthni menilainya sebagai perawi
yang tsiqah, dan Abu Kuraib memberikan pujian kepadanya. Namun,
sejumlah ulama melemahkannya.
Ibnu 'Adi berkata: 'Aku tidak melihat satu pun
hadits darinya yang mungkar.'" Selesai.
Ali Al-Qari berkata dalam Al-Mirqat (2/287):
"Ath-Thabrani meriwayatkannya dengan sanad yang tidak mengapa (la ba'sa
bih)."
Kemudian beliau menyebutkan hadits tersebut. (Kutipan
Selesai)
Begitu pula yang di katakan oleh Mahmud as-Subki
dalam ad-Diin al-Kholish 2/235:
أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ وَالطَّبَرَانِيُّ.
وَفِي سَنَدِهِ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ الْعَطَّارِدِيُّ، وَثَّقَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ،
وَأَثْنَى عَلَيْهِ أَبُو كُرَيْبٍ، وَضَعَّفَهُ جَمَاعَةٌ، وَقَالَ ابْنُ عَدِيٍّ:
لَمْ أَرَ لَهُ حَدِيثًا مُنْكَرًا.
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan
Ath-Thabrani.
Di dalam sanadnya terdapat Ahmad bin Abdul Jabbar
Al-'Atharidi. Ad-Daraquthni menilainya sebagai perawi yang tsiqah, dan
Abu Kuraib memberikan pujian kepadanya. Namun, sejumlah ulama
melemahkannya.
Ibnu 'Adi berkata: "Aku tidak melihat satu
pun hadits darinya yang mungkar." [Selesai]
Pendapat ke dua : yang mendho’ifkan sanadnya:
Al-Hafidz Syihabuddin al-Qostholani (w. 923) dalam
Irsyad as-Sari 2/100 menyatakan bahwa sanadnya tidak shahih. Dia berkata:
فِي إِسْنَادِهِ أَبُو بَكْرٍ النَّهْشَلِيُّ
وَهُوَ ضَعِيفٌ
Di dalam sanadnya adalah Abu Bakar al-Nahsyali, dan
dia itu dha'if.
Begitu juga yang dikatakan oleh Abdurrohiim Zein
al-Iraqi dalam Tarh at-Tathrib 2/264 dengan ungkapan yang sama.
Dan di-dha'if-kan pula sanadnya oleh Syu’aib
al-Arna’uth dalam Takhrij al-Musnad 31/137.
Hadits ini Mu’dhal Tafarrud Munkar. Tidak ada
satupun ulama ahli nuqad yang menjadikan hadits ini sebagai hujjah.
Al-Hafidz Syamsuddin Adz-Dzahabi (w. 748 H)
rahimahullah menyatakan:
هَذَا حَدِيثٌ مُنْكَرٌ، وَالْعَطَّارِدِيُّ
وَأَبُوهُ تُكَلِّمُ فِيهِمَا، وَالْيَحْصَبِيُّ فِيهِ جَهَالَةٌ.
“Hadits ini termasuk hadits munkar. Al-‘Utharidi dan bapaknya tak lepas dari pembicaraan, sedangkan Al-Yahshubi terdapat ketidakjelasan.” (Al-Muhadzdzab, 1/508)
****
BACAAN “ROBBIGFIR LII” ADALAH
AMALAN SALAF GENERASI
PERTAMA:
Bacaan robbighfirlii aamiin setelah “waladh-dhoollin’’
adalah amalan salaf generasi pertama.
Al-Hafidz Ibnu Rajab dalam Fathul Bari 7/99 meriwayatkan:
وَرَوَى أَبُو حَمْزَةَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ
النَّخَعِيِّ، قَالَ: كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ ذَلِكَ.
Abu Hamzah meriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha'i (wafat
96 H), beliau berkata: "Mereka (para salaf) dahulu memustahabkan bacaan "robbighfirlii" tersebut."
===***===
RIWAYAT YANG SHAHIH adalah
TIDAK ADA TAMBAHAN
" ROBBIGHFIR LII"
Ada riwayat hadits yang shahih tanpa ada kata
"Robbighfirli":
PERTAMA:
DARI SAHABAT YANG SAMA, WAA'IL BIN HUJUR
radhiyallaahu 'anhu
KE 1: Imam
ad-Daaruquthny meriwayatkan dengan sandanya melalui jalur Hajar Abi Al-'Anbas,
yaitu Ibnu 'Anbas, dari Waa'il bin Hujur radhiyaalhu 'anhu, dia berkata:
سمِعتُ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه
وسلَّمَ قرَأ: ﴿غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ﴾ [الفاتحة: 7]،
فقال: آمينَ. مدَّ بها صَوتَه.
Aku mendengar Rosulullah ﷺ membaca:
﴿ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ
عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴾
Lalu Beliau ﷺ mengucapkan:
" Aamiiin ", dengan memanjangkan suaranya.
[Di shahihkan oleh ad-Daaruquthni dlm
Sunannya 1/328 no. 1253. Dengan mengatakan:
قَالَ أَبُو بَكْرٍ: "هَذِهِ
سُنَّةٌ تَفَرَّدَ بِهَا أَهْلُ الْكُوفَةِ"، هَذَا صَحِيحٌ وَالَّذِي بَعْدَهُ.
Abu Bakar berkata: “Ini adalah Sunnah yang hanya
diamalkan oleh orang-orang Kufah.” Ini adalah Shahih dan yang sesudahnya
".
KE 2: Lewat
jalur lain Imam Ahmad no. 18854 dan ad-Daruquthni 1/328 no. 1256. Yaitu dari
Hajar Abi Al-Anbas, dari 'Alqamah, telah bercerita kepada kami Waa'il atau dari
Waa'il bin Hujur:
صلَّى بنا رَسولُ اللهِ ﷺ،
فلمَّا قرَأَ: ﴿غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ﴾ [الفاتحة: 7]،
قال: «آمينَ»، وَأَخْفَى بِهَا صَوتَهُ، ووضَعَ يَدَهُ اليُمنى على يَدِهِ
اليُسرى، وسلَّمَ عن يَمينِهِ، وعن يَسارِهِ.
Rasulullah ﷺ Sholat
bersama kami, dan ketika dia membaca:
﴿ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ
عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴾
Lalu Beliau ﷺ mengucapkan:
" Aamiiin ".
Dan dia melirihkan suaranya dalam mengucapkannya,
dan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, dan mengucapkan salam ke
kanan dan ke kirinya.
Riwayat ini di shahihkan oleh Syu'aib al-Arna'uth
tanpa lafadz (وَأَخْفَى بِهَا صَوتَهُ = artinya: " dan melirihkan suaranya)
dalam mengucapkannya "[Baca: Takhriij al-Musnad no. 188854 ].
Oleh sebab itu Syekh Abdullah bin Muhammad
al-Ghumari dalam himpunan fatwanya mengatakan:
وَالْحَاصِلُ: أَنَّ الْحَدِيثَ
بِدُونِ زِيَادَةٍ: «رَبِّ اغْفِرْ لِي» حَسَنٌ صَحِيحٌ كَمَا قَالَ ابْنُ حَجَرٍ وَغَيْرُهُ،
وَهُوَ بِهَا ضَعِيفٌ كَمَا قَالَ الْحَافِظُ الْعِرَاقِيُّ، فَظَهَرَ أَنَّ لا تُنَاقِضَ
بَيْنَ الْقَوْلَيْنِ لِاخْتِلَافِ مُورِدِهِمَا وَإِنْ كَانَ أَصْلُ الْحَدِيثِ وَاحِدًا،
وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ.
“Kesimpulannya bahwa hadits yang menjelaskan bahwa
Rasulullah ﷺ tidak menambahkan kata rabbighfir lî dianggap hasan
dan shahih, seperti yang dijelaskan Imam Ibnu Hajar al-‘Asyqalani dan Imam
lainnya, sedangkan dengan menambahkan kata tersebut dihukumi dhaif, seperti
yang diungkapkan al-Hafidz al-‘Iraqi.
Maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada pertentangan
diantara dua pendapat karena berbeda-bedanya dasar (hadits) dari keduanya,
meskipun asal dari (dua) hadits tersebut tetaplah satu”
(Baca: Mawsu'ah 'Abdullah al-Ghumari Fatawa wa
Ajwibah 16/181, Karya Abdullah bin Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari)
KEDUA:
DARI SAHABAT YANG LAIN, YAITU RIWAYAT ABU
HURAIRAH radhiyallahu ‘anhu:
Riwayat yang shahih dari sahabat selain Waa'il bin
Hujur tanpa ada kata "Robbighfirli":
KE 1: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا قَالَ الإِمَامُ: ﴿غَيْرِ المَغْضُوبِ
عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ﴾ [الفاتحة: 7] فَقُولُوا: آمِينَ، فَإِنَّهُ مَنْ
وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ المَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
" Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
“Apabila imam membaca ghairil-maghdubi ‘alaihim wa lad-dhalin, maka katakanlah
“amin”. Barangsiapa bacaan aminnya itu bersamaan dengan bacaan para malaikat,
niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang lalu. (HR. al-Bukhari no. 782)
KE 2: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا يَقُولُ: «لَا تُبَادِرُوا الْإِمَامَ إِذَا
كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا قَالَ: ﴿وَلَا الضَّالِّينَ﴾ فَقُولُوا: آمِينَ،
وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ،
فَقُولُوا: اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ»
“Adalah Rasulullah ﷺ mengajarkan
kepada kami.” Nabi bersabda, “Janganlah kalian mendahului imam. Apabila imam
takbir, maka bertakbirlah kalian. Apabila imam membaca “wa ladh-dhalin”, maka
katakana “amin”. Apabila imam rukuk, maka rukuklah kalian. Apabila imam berkata
“sami’a-Llahu liman hamidah”, maka katakanlah “allahumma rabbana lakal-hamdu”.
(HR. Musilim no. 959)
KE 3: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia
berkata:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا
كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا، وَإِذَا قَالَ: ﴿غَيْرِ
الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ﴾ [الفاتحة: 7] فَقُولُوا: آمِينَ،
وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا، وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ،
فَقُولُوا: اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا،
وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا»
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Dijadikannya imam adalah agar diikuti, jika ia takbir maka bertakbirlah,
jika ia membaca maka dengarkanlah, jika ia membaca: وَلَا الضَّالِّينَ maka ucapkanlah AMIIN.
Jika ia rukuk maka rukuklah!
Jika ia mengucapkan: (سَمِعَ
اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ) maka
ucapkanlah (اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ
الْحَمْدُ)!
Jika ia sujud maka sujudlah, dan jika ia shalat
dengan duduk maka shalatlah kalian semua dengan duduk!. "
[HR. Bukhori no. 734, Muslim no. 414, Abu Daud no.
511, Nasaai no. 921 dan Ibnu Majah no. 837 ]
****
FIQIH HADITS:
DOA "ROBBIGHFIRLII AAMIIN"
SETELAH BACA AL-FATIHAH DALAM SHOLAT
Al-Hafidz Ibnu Rajab dalam Fathul Bari 7/99
berkata:
وَرَوَى أَبُو حَمْزَةَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ
النَّخَعِيِّ، قَالَ: «كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ ذَلِكَ».
Abu Hamzah meriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha'i (wafat 96 H), beliau berkata: "Mereka (para salaf) dahulu memustahabkan bacaan "robbighfirlii" tersebut."
FATWA SYEIKH BIN BAAZ :
Syeikh bin Baaz pernah di tanya tentang bacaan
Robbighfirlii setelah waladhoolliin dan sebelum Aamiin. Lalu Beliau Rahmahullah
menjawab:
هَذَا غَيْرُ مَشْرُوعٍ، المَشْرُوعُ
بَعْدَ ﴿وَلَا الضَّالِّينَ﴾ [الفاتحة: 7] أَنْ يَقُولَ: آمِينَ. أَمَّا قَوْلُ: اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ، فَلَيْسَ بِمَشْرُوعٍ، هَذَا هُوَ المَشْرُوعُ لِلْمَأْمُومِ.
Doa "robbighfirlii" ini tidak di syariatkan. Adapun yang di syariatkan setelah “وَلَا الضَّالِّينَ” adalah mengatakan: "Aamiin".
Adapun ucapan: (اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ = artinya: Ya Allah, ampunilah aku dan
kedua orang tuaku) maka ini tidak di syariatkan. Bacaan Aamiin Inilah yang
disyariatkan untuk makmum.
Sumber: Syekh Bin Baz dari Fatwa Noor 'ala al-Darb (11/333-334)
Dalam Fatwa lain Syeikh Bin Baaz berkata:
لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ، لا يَنْبَغِي
تَرْكُهُ، لَيْسَ لَهُ أَصْلٌ، فَإِذَا قَالَ: ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾
[الفاتحة:5]، يَسْتَمِرُّ فِي قِرَاءَتِهِ وَلَا يَقُولُ: اسْتَعِنَا بِاللَّهِ، مَا
لَهُ أَصْلٌ، لَا يُبْطِلُ الصَّلَاةَ، الصَّلَاةُ لَا تُبْطَلُ بِذَلِكَ، لَكِنْ غَيْرُ
مَشْرُوعٍ هَذَا، كَذَلِكَ عِنْدَ قَوْلِهِ: وَلا الضَّالِّينَ، لَا يَقُلُ: اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ، هَذَا مَا وَرَدَ... يَقُولُ: آمِينَ....... وَلا الضَّالِّينَ
[الفاتحة:7] يَقُولُ بَعْدَهَا: آمِينَ. هَذَا الَّذِي شَرَعَهُ اللَّهُ.
" [Robbighfirli waliwaalidayya] Tidak ada
asalnya. Tidak, sebaiknya itu ditinggalkan. Itu tidak ada asalnya.
Kemudian ketika dia membaca:
﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ
نَسْتَعِينُ﴾.
Maka dia teruskan bacaannya. Dan tidak usah
mengucapkan: "ista'annaa billah / اسْتَعَنَّا
بِاللَّه"
karena tidak ada asalnya, NAMUN TIDAK MEMBATALKAN SHALAT.
Itu tidak membatalkan sholat, akan tetapi ini tidak
di syariatkan.
Demikian juga ketika dia berkata: (وَلا الضَّالِّينَ), maka dia jangan mengatakan:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ
Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku.
Karena ini tidak ada keterangan dalil...
Yang benar Dia ucapakan: Amin....
Yakni " waladhdhoolliin " Kemudian dia
ucapkan: Aamiin. Inilah yang Allah Syariatkan".
Sumber: Nur ‘ala ad-Darb / Alfadz Ghair Masyrū‘ah
Tuqāl
‘Inda Qirā’ah
al-Imām
al-Fātiḥah
/ 07 Jumadil Ula 1443 H.
IMAM SYAFI'I :
Namun Al-Imam Al-Syafi'i berkata dalam al-Umm 2/250
No. Bab 53 [Tahqiq DR. Rif'at Fauzi]:
وَلَوْ قَالَ مَعَ: آمِينَ
رَبَّ الْعَالَمِينَ وَغَيْرَ ذَلِكَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ كَانَ حَسَنًا لَا
يَقْطَعُ الصَّلَاةَ شَيْءٌ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
Dan jika dia mengucapkan bersama:
"Amiin", ditambah kalimat "Robbal 'aalamiin " dan lainnya
dari kalimat dzikir untuk mengingat Allah, maka itu baik, karena lafadz dzikir
apa saja tidak ada yang membatalkan sholat ".
****
PERNYATAAN PARA ULAMA
YANG MEMBOLEHKAN BACAAN
"ROBBIGHFIRLII"
Dalam kitab Busyrol Karim dijelaskan:
نَعَمْ؛ يُسَنُّ بَعْدَ ﴿وَلَا الضَّالِّينَ﴾، وَقَبْلَ
«آمِين» كَمَا فِي الْخَبَرِ: «رَبِّ اغْفِرْ لِي». قَالَ السَّيِّدُ عُمَرُ الْبَصْرِيُّ:
(فَإِن زَادَ: وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ.. لَمْ يَضُرْ) اهـ.
وَهُوَ مُسَاوٍ لِقَوْلِ غَيْرِهِ:
لَا بَأْسَ بِذَلِكَ، أَي أَنَّهُ لَا مَسْنُونٌ وَلَا مَكْرُوهٌ.
" Benar, disunahkan membaca "
robbighfirli " setelah (wa laa Adl-Dloollin) dan sebelum "amiin"
sebagaimana keterangan yang terdapat dalam hadis.
Sayyid Umar Al-Bashri mengatakan: "jika
seseorang menambah:
وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيْعِ
الْمُسْلمِيْن
“waliwalidayya walijamii'il muslimin”
Maka itu tidak membahayakan (tidak mengapa) ".
Hal ini ada kesamaan dengan perkataan Ulama lain
yaitu (لاَ بَأْسَ = tidak mengapa), maksudnya: tidak disunahkan dan tidak
dimakruhkan ".
Dan juga ada yang lain yang sependapat dengan
Sayyid Al-Bashri, yaitu Syekh Ali As-Syibromilisi yang dijelaskan dalam Ianatut
Tholibin: " Telah berkata Syaikh Ali As-Syibromilisi:
وَيَنْبَغِي أَنَّهُ لَوْ زَادَ
عَلَى ذَلِكَ: وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ لَمْ يَضُرْ أَيْضًا اهـ
"Selayaknya jika seseorang menambahi lafadz
(waliwalidayya walijamii'il muslimin) maka hal itu tidaklah membahayakan".
-----
SIAPAKAH YANG DIANJURKAN BACA ROBBIGHFIRLI ?
Bacaan robbighfirli itu hanya dianjurkan bagi
membaca al-Fatihah saja (imam dan munfarid) ataukah juga berlaku bagi makmum?.
JAWABANNYA:
Pertama:
Dalam kitab (بغية
المسترشدين ) hal. 59
[cet Daarul Kutubul Ilmiyyah]Sayyid Ba 'alawi Al-Hadlromi menuqil perkataan
Asy-Syaikh Al-Allaamah Tohir bin Husein:
قَالَ الشَّرِيفُ الْعَلَّامَةُ
طَاهِرُ بْنُ حُسَيْنٍ: لَا يُطْلَبُ مِنَ الْمَأْمُومِ عِنْدَ فَرَاغِ إِمَامِهِ مِنَ
الْفَاتِحَةِ قَوْلُ رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَإِنَّمَا يُطْلَبُ مِنْهُ التَّأْمِينُ فَقَطْ،
وَقَوْلُ رَبِّي اغْفِرْ لِي مَطْلُوبٌ مِنَ الْقَارِئِ فَقَطْ فِي السَّكْتَةِ بَيْنَ
آخِرِ الْفَاتِحَةِ وَآمِينَ اهـ
Makna Tuban: Berkata Asy-Syarif Al-Allaamah Tohir
bin Husein: "Ucapan Robbighfirli tidak dianjurkan bagi makmum ketika imam
selesai membaca Al-Fatihah, yang dianjurkan bagi makmum adalah ucapan Amin
saja. Adapun ucapan Robbighfirli itu dianjurkan bagi yang membaca (Al-Fatihah)
saja saat diam antara akhir Al-Fatihah dan Amin".
Kedua:
Dalam kitab I‘ānat ath-Ṭhālibīn 1/173, Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syāthū
Ad-Dimyātī
Asy-Syāfi‘i
(1310 H) berkomentar:
وَانْظُرْ هَلِ الَّذِي يَقُولُ
مَا ذُكِرَ الْقَارِئُ فَقَطْ؟ أَمْ كُلُّ مَنْ الْقَارِئُ وَالسَّامِعُ؟ وَالَّذِي
يَظْهَرُ لِي الْأَوَّلُ
Dan perhatikanlah!, apakah orang yang (dianjurkan)
membaca bacaan (robbighfirli) tersebut itu hanya yang baca fatihah saja?
Ataukah masing-masing dari yang membaca dan yang mendengar ? Yang dzohir
menurutku adalah yang pertama (yakni hanya yang membaca) ".
Ketiga:
Dalam Kitab Fathul Wahhab al-Malik Syarh 'Umdat
as-Salik karya Toha bin Abdul Hamid yang memberi kesimpulan jawaban.
قَوْلُهُ: (مَطْلُوبٌ...) إِلخ:
قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بَاسُودَانَ فِي فَتَاوَاهُ بَعْدَ أَنْ
نَقَلَ مَا قَالَهُ الحَبِيبُ طَاهِرٌ: (فَعَلَيْهِ إِذَا قَالَ المَأْمُومُ رَبِّ
اغْفِرْ لِي حَالَةَ قِرَاءَةِ الفَاتِحَةِ انْقَطَعَتْ، لَكِنْ فِي الدَّرِّ المَنْثُورِ)
أَنْ قَوْلَ (رَبِّ اغْفِرْ لِي) مَطْلُوبٌ مِنَ القَارِئِ وَغَيْرِهِ) انْتَهَى.
" Perkataan mushonif (dianjurkan... dst):
Telah berkata Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah Baasudan dalam fatawi beliau
setelah menuqil apa yang dikatakan oleh Al-Habib Tohir diatas". maka dari
perkataan ini, ketika makmum mengucapkan Robbighfirli saat membaca Al-Fatihah
maka bacaan Al-Fatihah nya menjadi terputus.
Akan tetapi didalam kitab Ad-Durrul Mantsur [karya Imam as-Sayuuthi]dikatakan bahwa ucapan Robbighfirli itu dianjurkan bagi pembaca Al-Fatihah dan selainnya (termasuk pendengar)".
Penulis katakan:
Berarti menurut Imam Suyuti dalam Ad-Durrul Mantsur bahwa
bacaan "Robbighfirli" berlaku bagi imam dan makmum.
====
KESIMPULAN
Kesimpulan dari kelompok yang membolehkan baca
"Robbighfirli" sebelum Aamin adalah sbb:
Pertama: Setelah Amin boleh ditambah Rabbal Alamin
atau Walhamdu Lillahirobbil Alamiin.
Kedua: Sebelum Amin tidak disunahkan mengucapkan sesuatu
apapun kecuali Robbighfirli dan setelahnya tidak mengapa ditambah Waliwalidayya
walijamii'il muslimin.
Ketiga: Yang dianjurkan membaca Robbighfirli hanya
yang membaca Fatihah saja (didalam shalat berarti hanya imam dan munfarid).
Namun menurut Imam Suyuti dalam Ad-Durrul Mantsur juga berlaku bagi makmum.
0 Komentar